PENGANTAR
Wahai para Ksatria Palang Merah. Dihadapanmu aku hadir untk mengajakmu bersama-sama merenungkan perjalanan kehidupanmu dari saat engkau mula dapat melihat matahari dan indahnya alam, saat engkau hadir di dunia ini sampai detik sekarang.
Bukalah lembar demi lembaran kehidupan yg engkau lalui. Tanyakan pada hatimu: "Apakah yg engkau kerjakan sudah sesuai dgn apa yg engkau harapkan? Sudahkah engkau mengamalkan Prinsip Dasar Kepalangmerahanmu? Dan sudahkah engkau mengabdi pada bumi pertiwi?
Bukalah lembar demi lembar dan janganlah berganti lembar jika engkau belum benar-benar dapat meresapi apa yang tersurat dan tersirat di dalamnya.
RENUNGAN JIWA
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji bagi Allah Tuhan semesta sekalian alam.
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang yang menguasai hari pembalasan.
Hanya Engkaulah yang kami sembah dan kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukkan kami jalan yang lurus yaitu jalan yang Engkau anugerahi nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.
Renungan jiwa ini,
Etrospeksimu ini,
Introspeksimu ini,
Tafakurmu ini, adalah satu cara yang akan dapat menyebabkan tumbuhnya proses jiwa dalam dirimu.
Dengan renungan ini, jiwamu akan bertambah geraknya dan karyanya secara wajar.
Renungkanlah bahwa,:
Semakin lanjut usia kita, seolah-olah makin cepatlah jalannya waktu ini dapat diartikan bahwa :
Tafakurmu ini, adalah satu cara yang akan dapat menyebabkan tumbuhnya proses jiwa dalam dirimu.
Dengan renungan ini, jiwamu akan bertambah geraknya dan karyanya secara wajar.
7 Prinsip Dasar Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional mengandung arti ketentuan yaitu ketentuan tentang bagaimana dan berapa tinggi harkat sikap seorang putera Indonesia terhadap Tuhan, bangsa dan negara serta alam semestanya.
Kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi yaitu :
Berilah pertolongan kepada mereka, tanpa engkau bedakan korban yang terluka di dalam pertempuran, mencegah dan mengatasi penderitaan sesama manusia. Palang Merah menumbuhkan saling pengertian, persahabatan, kerjasama dan perdamaian abadi bagi sesama manusia.
Janganlah engkau membuat perbedaan atas dasar kebangsaanmu, kesukuanmu, dan agamamu. Tujuannya semata-mata karena ingin mengurangi penderitaan manusia dan medahulukan keadaan yang paling parah.
Berilah mereka bantuan secara sukarela, yang tidak didasari oleh keinginan untuk mencari keuntungan apa pun.
Terbukala engkau untuk semua orang dan melaksanakan tugas kemanusiaan di seluruh wilayah.
Dan ketahuilah,engkau mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dalam menolong sesama manusia.
INGAT !!
Renungkanlah, tanyakanlah pada mata hatimu :
• Sudahkah aku melaksanakan semua kewajibanku terhadap Tuhan
• Sudahkah sesuai apa yang aku kerjakan dengan perintah-perintahNya dan apakah aku sudah dapat menjauhi laranganNya.
Wahai nuraniku bicaralah ! Jawablah ! Aku adalah negara pegawai dan pengaman Pancasila.
Ketika aku tengok ke belakang, sudahkah aku menjalankan dan mengamalkan Pancasila dalam sendi-sendi kehidupanku ? bila aku harus katakan yang benar adalah benar, dan bilamana aku harus katakan bahwa yang salah adalah salah.
“ Hidup manusia di dunia ini tidak lama, segera akan berlalu, mungkin besok lusa atau bahkan nanti maut pun akan menjemput kita “.
Seorang Ksatria Palang Merah yang bijak pasti ingin berbakat dan bermartabat tinggi, sebab hanya dengan itulah ia dapat menimbulkan nama baik. Untuk itu pantaslah, wajiblah ia memper-timbangkan lebih dahulu dengan sebaik-baiknya yaitu : menelaah, memeriksa dan meneliti dengan seksama apa yang akan dikatakan dan apa yang akan dilakukannya sesuai dengan tanggung jawabnya.
Janji Pramuka adalah suatu janji, bukan sumpah akan tetapi janji ini wajib dinyatakan ”SIAMO?”, siapkah anda menolong orang berdasarkan kesukarelaan, maka janji itu bukanlah janji biasa, melainkan janji yang tinggi dan luhur harkat dan martabatnya serta berat tanggung jawabnya.
Sabda Pandito Ratu : apa yang terucap adalah kebenaran dan aku untuk umum adalah pahlawan. Jangan tanyakan apa yang dapat negara berikan untukmu tapi tanyakanlah apa yang dapat engkau berikan kepada negaramu. Aku adalah bagian dari anggota masyarakat, aku adalah salah satu dari sendi mereka. Aku tidak dapat hidup tanpa adanya mereka.
Wahai jati diriku, jawablah! tuluskah pertolongan yang aku berikan kepada mereka yang membutuhkan ? Tanpa pamrih sedikitpun ? Siapakah yang pernah kutolong dan massihkah ada yang perlu kutolong ? di ujung sana serumpun pohon pisang yang tumbuh subur.
Ingat pohon pisang !! Dia tak rela mati sebelum berbuah, setelah memunculkan generasi penerusnya baru rela mati. Apa yang harus kuperbuat untuk bangsa, negara dan agamaku, serta apapula yang harus kuperbuat untuk masyarakat.
Renungan jiwa ini, ektrosspeksimu ini, introspeksimu ini, tafakurmu ini adalah satu cara yang dapat menyebabkan tumbuhnya satu proses jiwa dalam dirimu.
Dengan renungan ini, jiwamu akan bertambah geraknya dan karyanya secara wajar. Disini ketika aku merenung menelusuri kehidupan yang telah aku tempuh, mencoba introspeksi dan etrospeksi diri, ternyata aku adalah hanya sebagian kecil diantara tuntunan-tuntunan yang harus diperbuat. Dan bagimu Ya Allah sangatlah tidak berarti apa-apa, dan hanya kepadaMu-lah kami berpasrah diri.
Ya Allah, sungguh aku ini lemah karena itu Ya Allah, kuatkanlah. Aku ini hina, karena itu mulyakanlah. Aku ini fakir, maka cukupkanlah aku. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang.
Di depanku, sebatang lilin dengan sinar redupnya akan tetap mampu memberikan seberkas cahaya di kegelapan malam, sehingga dapat dengan mudah membaca bait demi bait dan lembar demi lembar, apa yang tergores di atas kertas dan dengan cahayanya pula aku dapat melihat dunia dengan jelas. Namun sungguh sayang tubuhnya kian menyusut dan akhirnya hancur lumat, dia mengorbankan dirinya demi menerangai kegelapan dunia. Sanggupkah aku memberikan cahaya kehidupan kepada sebagian masyarakat yang masih terbelenggu oleh kemiskinan dan kebodohan.
Demikianlah adik-adik, renungan jiwa ini, semoga apa yang tertulis di dalamnya dapat dijadikan untuk introspeksi diri.
by
Ka. PMR
Unit SMANSABA
0 komentar:
Poskan Komentar